26 Tahun yang lalu aku mengenalmu, bahkan sebelum aku bisa merasakan seperti apa hidup ini sebenarnya. Aku masih terlalu kecil untuk mengenal apa itu hidup dan tujuan hidup ini, tapi aku tau aku bisa merasakan kehadiranmu, wanita terkuat yang aku kenal sampai detik ini aku hidup.

Mengenalmu dan mendengar semua ceritamu adalah hal terindah yang pernah Allah berikan kepadaku. Anugerah terindah yang mungkin engkau tidak menyadarinya. Hidup sendiri tanpa suami tercinta yang mencintaimu seumur hidupnya pun kau jalani dengan ikhlas dan tegar. Hampir 26 Tahun engkau hidup tanpa separuh jiwamu, aku tahu itu berat namun engkau tetap tegar dan kuat demi kami penerus keluarga. Engkau bukan orang yang melahirkanku secara langsung namun aku tahu darahmu mengalir di tubuh ini sebagai penerus tahta keluarga.

Simbok aku menyebutmu, wanita kuat yang melahirkan wanita yang tak kalah kuat juga yaitu ibuku. Mungkin orang lain bingung kenapa aku menyebut nenek dalam sebuah kata Simbok, Simbok berarti Ibu dalam bahasa jawa, namun aku tetap memanggilmu itu karena engkau sama seperti Ibu untukku. Pak uwo adalah kakek terhebat yang juga aku kenal, dekapan hangatnya tak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun didunia ini. Dekapan sayang yang aku bisa rasakan dipenghujung hidupnya. Beliau meninggal dunia tepat 6 bulan setelah aku lahir. Skenario Allah paling baik, karena aku tahu dekapan hangatnya adalah yang terhangat sampai aku menutup mata nanti. Terimakasih telah memberikan dekapan hangat itu untukku ya Allah. Laki-laki bijak dan romantis yang aku pernah tau, laki – laki terhebat yang menjadi panutan keluarga.

Aku terlahir dirumah sederhana secara fisik, hanya setengah bangunan permanen dan setengahnya adalah anyaman bambu beralaskan tanah dan batu. Tapi untukku itu adalah rumah paling indah yang aku tahu, karena bukan dengan materi rumah itu bisa kokoh namun dengan cinta. Sejarah hidupku dimulai dari sana, rumah penuh cinta.

Dari semenjak aku lahir aku selalu mendatangimu, menangis dipangkuanmu saat aku marah karena berebut mainan dengan kakakku. Bahkan sampai aku besar kau masih setia menantiku di depan pintu untuk menyambutku datang walau malam sudah terlalu larut untuk kau tetap terjaga. Engkau yang mengajarkanku cinta dan kesederhanaan dalam hidup ini, tak pernah menanamkan benci terhadap orang yang selalu menyakitiku, berjalan dengan rendah hati, dan tak pernah meninggalkan sholat. Aku ingat semua pesanmu. Aku selalu rindu menunduk di hadapanmu dan memohon maaf kepadamu saat setelah sholat idul fitri. Aku tahu aku adalah cucu yang paling tak baik dalam bertata bahasa jawa yang baik dan benar namun kau selalu memaklumiku dan memelukku dengan cinta bahkan dengan senyum terindahmu.

Senyuman yang selalu menghangatkanku. Maaf kalau aku tak bisa terlalu memberikan perhatian dan kasih sayangku ditahun tahun terakhir hidupmu, bukan aku tak mau tapi aku terlalu sedih membayangkan jika saat ini datang aku tak dapat menahan diriku sendiri.

Tahun tahun terakhir memang jadi yang terberat untukmu, usia yang sudah terlampau tua membuat dirimu tak bisa beraktifitas seperti dulu lagi. Tapi engkau tetap melaksanakan sholat 5 waktu dan sholat malam sampai hari terakhirmu.

94 Tahun hidup di dunia ini memang tidak mudah, berat pasti dengan segala kelemahan tubuhmu, tapi aku tahu kau masih sama sebagai simbok yang aku kenal saat aku lahir ke dunia ini dulu.

13 Februari 2016, pukul 08:30 WIB. Pagi itu kabar tentangmu masuk melalui telepon selularku. Tak ada kata yang aku dapat ucapkan walaupun aku tahu ini yang terbaik dari Allah untuk meringankanmu. Hatiku sakit seperti ditusuk oleh puluhan pisau belati. Allah telah mengambil simbok untuk selama-lamanya, menempatkanya di sisi terbaikMu ya Allah. Terimakasih ya Allah engkau telah memberikanku pelajaran sangat berharga dari wanita paling kuat di dunia ini, Simbok.

Terimakasih simbok atas semua kasih sayang dan pengalaman hidup yang telah engkau berikan kepadaku. Terimakasih telah masuk dalam perjalanan hidupku. Tak terhitung berapa kali aku meneteskan air mataku saat aku menulis surat ini, yang aku tahu engkau telah bahagia disisi Allah SWT.

Maafkan aku yang belum bisa memenuhi permintaan terakhirmu kepadaku, yang aku tahu saat hari bahagia itu datang engkau adalah orang pertama yang akan kuingat.

Maafkan aku yang tidak bisa melihatmu untuk terakhir kalinya dan hanya bisa duduk berdoa disamping rumah terakhirmu. Aku akan selalu mengunjungimu di rumah terakhirmu atau lewat doa doaku.

Aku yakin engkau bahagia disana. Selamat jalan simbok, selamat terlahir kembali di alam yang baru.

 

“innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”

“sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali”.

 

????????????????????????????????????

Dari aku cucumu yang selalu akan mengingatmu dan meneruskan perjuangan keluarga Martodirenggo.

 

 

Tri Atma Rahmani

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *