Bekasi, 23 April 2016

Lokasi : CGV Blitz Bekasi Cyber Park

Sabtu ini saya memutuskan menghabiskan waktu saya untuk nonton film Indonesia yang baru saja rilis yaitu “Surat Untuk Kartini”. Ditengah riuhnya film Hollywood yang masuk ke bioskop di Indonesia membuat saya tetap ingin nonton film Indonesia, apalagi ide cerita yang diangkat cukup menarik dengan perspektif yang apik.

“Surat Untuk Kartini” adalah film yang saya pilih Sabtu kemarin. Ga punya ekspektasi apapun dengan film ini, mendengar film ini pun baru-baru saja saat beberapa stasiun tv banyak membuat program dan liputan tentang menyambut hari bersejarah kita Hari RA Kartini. Sudah melekat di ingatan sejak kita sekolah dulu tanggal 21 April adalah peringatan Hari RA Kartini, hari lahirnya Ibu RA Kartini.

RA Kartini adalah sosok pejuang kaum perempuan pada saat Indonesia belum merdeka dan masih dalam penjajahan kolonial Belanda. Kegigihan Kartini saat muda dulu untuk dapat membangun sebuah sekolah bagi anak-anak perempuan pada masa itu banyak sekali mengalami halangan. Stigma wanita jawa tak perlu pintar, tak perlu sekolah, hanya perlu belajar urus rumah, masak, anak, dan suami membuat RA Kartini sedih. Hal itu lah yang mendasari RA Kartini melakukan pergerakan perubahan untuk kaum perempuan. Perempuan itu harus pintar, karena dia akan mendidik anak-anaknya kelak dan meneruskan perjuangan, itu yang dikatakan RA Kartini.

Di film ini kita disajikan perspektif lain dengan setting sejarah RA Kartini. “Surat Untuk Kartini” ini berangkat dari ide sutradara untuk melihat sosok Kartini dari sudut pandang orang ketiga, yaitu seorang tukang pos. Tukang Pos ini bernama Sarwadi yang diperankan oleh Chiko Jeriko. Kita semua tahu dan sejarah mencatat RA Kartini yang gemar membaca dan menulis mempunyai sahabat pena di Belanda. RA Kartini selalu mengirim surat kepada sahabat penanya itu tentang kegelisahan beliau dan keinginanya untuk memberikan pendidikan yang layak bagi para perempuan di bumiputra, yang pada akhirnya kita tahu buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” adalah sebuah buku kumpulan surat RA Kartini. Proses pengiriman dan penerimaan surat inilah jalan bagi Sarwadi akhirnya bisa bertemu dengan RA Kartini yang diperankan oleh Rania Putri.

Sebagai seseorang yang lahir di tanah jawa, saya sangat mengerti sekali adat istiadat yang memang ada dan tumbuh di tanah jawa. RA Kartini sebagai keluarga ningrat bangsawan yang sangat dihormati oleh warga kala itu terkungkung dengan adat istiadat kental jawa. Nilai kesopanan dan tata krama dalam bersikap kepada yang lebih tua adalah hal yang mutlak harus dilakukan. Dalam pertemuan makan di meja makan pun, orang tua harus mengambil makanan terlebih dulu baru yang lebih muda boleh mengambil makanan, berjalan jongkok untuk bertemu sang ayah dan berbicara. Semuanya ada tata krama aturan yang harus dijalani dan sangat dihormati. Hal itu membuat RA Kartini gelisah, karena kekakuan itu tak seharusnya ada, RA Kartini sangat menjungjung tinggi kesamaan hak, dan kebebasan sebagai seorang manusia.

RA Kartini akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang sangat berbeda dari saudaranya yang lain, karena perbedaan itu pula RA Kartini dianggap aneh dan tidak normal. Cara berpikir RA Kartini yang bisa dibilang terbuka tersebut selalu ditentang oleh keluarga besarnya.

Saya melihat banyak sekali sisi RA Kartini yang baru yang dapat digambarkan di film ini dari sudut pandang orang ketiga Sarwadi. Perjuangan beliau dan bagaimana bumbu romansa dengan Sarwadi menjadi sebuah gambaran indah berbalut nuansa sejarah.

Bagaimana perjuangan RA Kartini yang sangat ingin memajukan generasi perempuan Indonesia tetapi terkungkung oleh adat istiadat dan stigma wanita jawa yang sangat dijaga oleh keluarganya. Sulit sekali menjadi beliau, ketika ingin berjuang tapi penghalang terbesar adalah adat istiadat.

Satu kalimat yang membekas untuk saya adalah “Sudah seharusnya wanita jawa tunduk pada nasib”. Saya dari kecil sudah sering mendengar hal tersebut, dan bahkan mengalami diskriminasi sosial tersebut. Sama sekali tidak mudah menjalani hari-hari dengan kungkungan stigma itu. Saya bukan seseorang dari kalangan bangsawan, dari kecil hidup dalam jarak antara kalangan ekonomi atas dengan saya yang hanya seorang yang lahir dari kalangan ekonomi bawah.

Saya ingat ada yang menyentak saya dengan kalimat kamu ga pantas ada disini, ini bukan ruang kamu karena kamu perempuan. Hal itu cukup membekas dalam sebuah ingatan. Sudah sejak lama perjuangan RA Kartini untuk bisa menyamakan kedudukan wanita di mata dunia, yang kita mengenalnya dengan istilah emansipasi wanita tetapi di era saat ini saya pun masih pernah merasakan hal itu. Sungguh hal yang sangat menyedihkan. Seperti halnya RA Kartini saya pun berhak memiliki kebebasan tersebut dan layak untuk memperjuangkanya. Semangat dan keberanian mendobrak tatanan budaya kaku RA Kartini sangat menginspirasi saya.

Film ini kembali mengingatkan kita akan perjuangan seorang Kartini, Sarwadi sangat apik membawa cerita ini menjadi lebih menarik. Kecintaan Sarwadi terhadap RA Kartini sangat dalam, dia terpana dengan paras ayu RA Kartini dan perjuanganya untuk memberi pendidikan dan posisi yang sama untuk kaum perempuan. Sarwadi kagum terhadap sosok Kartini yang pintar dan berbeda karena mau berjuang demi cita-citanya.

Sebagai seorang perempuan dewasa saya ingin semangat Kartini ini menular ke generasi saat ini. Membaca adalah pintu dimana kita bisa mendapat banyak informasi, melihat dunia. Hal ini yang kadang lupa di gaungkan kepada generasi penerus bangsa dalam peringatan hari Kartini. Kartini bukan saja tokoh emansipasi wanita, bukan hanya tokoh yang berjuang demi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga tokoh pengingat akan sebuah pendidikan dan budaya membaca. Minat membaca di Indonesia sangat kurang sekali, itu seharusnya yang perlu terus digaungkan sebagai pengingat terhadap RA Kartini. Kegemaran beliau dalam membaca banyak buku dan menulis membuat semangat pergerakannya pun terus berjalan. Pendidikan tak hanya bisa kita dapat dari bangku sekolahan saja tapi juga dari membaca buku dimanapun kita berada.

Hari Kartini bukanlah semata hanya hari dimana anak-anak sekolah dasar dan TK memperlihatkan baju adat Indonesia yang mereka pakai atau peragaan busana kebaya dan sanggul di kepala, tapi juga harus menanamkan kebiasaan membaca sama seperti RA Kartini dulu dalam memulai perjuangnya.

Film ini sangat menarik untuk ditonton, membawa kita melihat sejarah RA Kartini dari sudut pandang yang lain. Kisah fiktif romansa berbalut sejarah. Bagi yang ingin mengetahui sejarah dengan cara yang berbeda film ini sangat layak untuk ditonton. Chiko Jeriko sebagai Sarwadi dan Rania Putri sebagai RA Kartini memerankan peran mereka dengan sangat baik, dan mampu membawa penonton untuk masuk dalam cerita yang bersetting tahun 1900-an. Lewat film ini kita juga diajak kembali memasuki suasana kota Jepara dan Rembang pada tahun 1900-an. Penggambaran yang sangat apik dengan pemilihan lokasi yang masih relevan diperankan untuk masa itu, membawa kita pun terasa kembali ke masa itu. Film ini di Sutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis, dan diproduksi oleh MNC Picture.

Film ini sangat layak untuk ditonton. Mari kita majukan perfilman Indonesia dengan mendukung semua karya film anak bangsa Indonesia. Mari buat film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

 

“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”.

- RA. Kartini -

 

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

- RA. Kartini -

Surat Untuk Kartini

2 Comments

  1. raes

    Ulasan film yg menarik,,sy sepakat dgn minat membaca harus digaungkan,,smg akan ad ulasan menarik lg dr karya2 anak bangsa
    terimakasih 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *