“Peoples change in every second” entah siapa yang memulai membuat kalimat itu, yang jelas ada seseorang yang selalu mengingatkan saya akan kalimat itu. Berkali-kali mendengar tanpa bisa merasakan langsung maksud dari kalimat itu. Sampai tiba saatnya akhirnya saya merasakan dengan pasti maksud dari kalimat itu. Tentu saja berubah menjadi sesuatu yang baik atau mungkin lebih baik.

Saya tidak akrab dengan kata berubah dalam hidup ini, sampai akhirnya ada seseorang yang mungkin Allah datangkan dalam episode hidup saya untuk memberitahu saya apa itu sebuah perubahan. Pengetahuan tak hanya bisa kita dapatkan dari bangku sekolah, buka wawasan dan cara pandang kita maka itu akan kita temukan. Setidaknya itu berlaku untuk saya.

Perubahan yang sebenarnya baru saya rasakan 2 tahun belakangan ini. Dari dulu saya tidak suka tantangan apalagi perubahan, buat saya hanya ada satu jalur yaitu nyaman. Ya, saya terjebak dalam sebuah comfort zone. Bertahun-tahun saya lewati hanya untuk terkungkung dalam sebuah kenyamanan yang saya sendiri tidak sepenuhnya paham. Sampai akhirnya hari itu, saya bisa benar-benar membuka mata.

Saya tak akan detail menjelaskan apa yang terjadi pada hari itu tapi satu pukulan itu akhirnya membangunkan saya dari tidur yang terlalu lama. Akhirnya saya belajar untuk dapat bisa mengenali diri sendiri, apa yang sebenarnya saya cari, dan untuk apa sebenarnya saya hidup.

Keresahan satu persatu mulai tumbuh dalam hidup saya, ketika kita merasa resah tentang hidup itu berarti kita benar-benar hidup. Saya memulai hidup sangat amat normal seperti anak-anak lain seumuran saya. Saya juga melalui fase sekolah, kuliah, dan dunia kerja. Kuliah dalam bidang akuntansi membuat saya akrab dengan deretan angka dan debit kredit, tapi jujur saya tak mahir dalam membuat laporan keuangan. Lulus kuliah dengan nilai yang cukup baik, menjadi anak yang baik-baik, dan memulai mencari sebuah pekerjaan berbekal ijazah.

Awal perjalanan karir saya dimulai dengan menjadi tim finance di sebuah perusahaan ekspedisi. Tak bertahan lama karena saya merasa tidak cocok dengan lingkungan kerjanya. Cukup 4 bulan saya disana, dan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan. Saya kuliah lagi untuk mendapatkan gelar Strata 1. Saat itu saya mulai lagi mencoba mencari sebuah pekerjaan baru, sampai akhirnya berkat koneksi Ayah saya diterima dan bekerja sebagai staf administrasi di sebuah sekolah islam negeri. Hari-hari berlalu begitu cepat sampai akhirnya saya menyelesaikan studi S1 saya dan lulus. Menjadi staf administrasi di sekolah sama sekali tidak dinamis, semuanya standar dan saya mulai terbuai kembali dengan sebuah kenyamanan itu dan lupa mencari apa yang sebenarnya saya inginkan.

Saya menjalani fase hidup ini hanya berbekal pandangan orang lain, selama saya mengikuti langkah orang lain berarti saya memiki kehidupan yang normal. Sampai akhirnya seseorang hadir menampar saya dengan semua cara pandang dan bagaimana dia memaknai hidup ini. Saya merasa terbangun dari tidur berkepanjangan.

Bekerja sebagai staf administrasi di sekolah bukanlah hal yang saya impikan, saya tidak mau lagi hidup seperti robot tanpa makna. Setelah 4 tahun lebih akhirnya saya mengakhiri semuanyadan dengan berani mengambil keputusan untuk resign dari satu-satunya pekerjaan yang saya miliki saat itu yaitu sebagai staf administrasi sekolah.

Tepat 5 bulan yang lalu saya resmi mengundurkan diri dari kantor dan mulai menata sebuah kehidupan baru. Dunia seperti terbalik, saya tak pernah menyangka dapat mengambil sebuah keputusan seberani ini, 5 bulan saya tidak memiliki penghasilan itu rasanya seperti mau makan tapi ga punya makanan, Hahaha.

Banyak hal baru yang akhirnya saya bisa rasakan, lebih bisa bersyukur segala nikmat yang selama ini Allah berikan. Selalu ada penyesuaian terhadap suatu perubahan, itu sudah pasti. Saya sedang dalam fase penyesuaian, saat ini saya benar-benar merasakan ternyata hidup di dunia ini sulit, tantanganya banyak, dan menyadari dengan baik bahwa Allah memang menempatkan kita di bumi ini untuk diuji. Tak mudah bagi saya melakukan penyesuaian disaat diri ini tidak akrab dengan sebuah kata perubahan.

Ada yang pernah bilang sama saya, kesendirian membuat kita bisa lebih mengenal diri kita, dan ketika kita mengenal diri kita lebih dalam, kita akan mengenal Tuhan dan paham akan tujuan hidup ini.

Dalam proses penyesuaian ini saya bisa memaksimalkan apa yang saya miliki dan mengeksplore bakat yang saya miliki. Jujur ini tak mudah, rasanya gila karena lebih mudah kenalan sama orang dan mencoba mengenal lebih dalam orang tersebut ketimbang harus mengenal diri sendiri dan eksplore diri sendiri.

Saya ga mau nyerah, saya mau perjuangkan semuanya, saya harus bertanggung jawab atas apa yang saya sudah mulai. Untuk membuat sebuah Keris yang indah dan syarat makna saja harus ditempa dengan api dan besi berkali-kali, apalagi hidup ini jika ingin menjadi yang terbaik harus berani menerima tempaan dan membentuk diri dengan baik sesuai dengan pemaknaan atas hidup itu sendiri.

Saya sedang berkarya dalam dunia fotografi dan penulisan, 2 hal ini adalah yang saya senangi dalam hidup ini dan sudah terpendam bertahun-tahun sampai akhirnya saya hidupkan kembali saat ini . Belajar hidup dari sebuah karya. Sulit? tapi pasti bisa. Setidaknya itu kalimat dari Pandji Pragiwaksono yang saya selalu hidupkan dalam diri, salah satu penyemangat diri ini berkarya adalah melihat perjuangan dan karya-karyanya.

Saya yakin saya bisa membuat ini semua menjadi hal yang layak orang lihat dan ingat. Halaman ini menjadi saksi akan sebuah awal pemaknaan hidup saya.

 

“He who is not courageous enough to take risks will accomplish nothing in life”

-Muhammad Ali-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *