Saya selalu senang mengenang sebuah perjalanan masa lalu, bukan saya ga suka move on yaaa tapi banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari sana. Menyenangi sebuah perjalanan adalah hal yang saya syukuri dalam hidup ini, karena saya tak hanya melihat dari satu sudut pandang saja. Perjalanan selalu mengajarkan saya untuk sadar penuh akan hikmah dalam hidup ini. Termasuk perjalanan kali ini yang akan saya bagi dengan anda. Yogyakarta kota penuh cinta dan cerita hidup saya berawal dari sana.
Bukan hal baru buat saya bolak balik Jakarta – Yogyakarta, karena mengunjungi kota istimewa ini sudah jadi ritual tahunan. Kali ini saya berkesempatan lagi untuk mengunjungi kota Yogyakarta bukan karena lebaran tapi pengen liburan aja, hehehe..
Perjalanan kali ini saya mulai sebagai bagian dari rangkaian release dan healing setelah resmi resign dari pekerjaan di kantor lama. Saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Yogya karena disanalah tempat saya kembali untuk temu kangen dan bercerita dengan kota dimana saya memulai setiap cerita hidup saya.
Seperti biasa perjalanan kali ini saya memilih menggunakan kereta api karena lebih nyaman dan tak terburu – buru disamping harganya yang bersahabat buat kantong saya. Saya berangkat ke Yogya melalui stasiun pasar senen Jakarta, pada bulan Mei 2016 saya lupa tanggal pastinya, ya beginilah kalau menulis kisah sebuah perjalanan tidak langsung setelah perjalanan itu berakhir tetapi beberapa bulan setelahnya, maafkan saya, hahaha..
Saya memilih berangkat Kamis malam, setelah jam pulang kantor karena travelmate saya masih harus bekerja hari itu baru bisa pergi liburan, beda dengan saya yang sudah jobless, jobless tapi masih bisa jalan – jalan dong ya pastinya, hahahaha..
Kereta kami dijadwalkan berangkat dari stasiun pasar senen menuju stasiun tugu Yogyakarta pukul 21:40 WIB, tapi karena saya orangnya rajin jam 20:00 WIB saya sudah tiba di stasiun pasar senen dan menunggu travelmate saya yang masih kejebak sama report end of daynya di kantor, hahaha. Akhirnya travelmate saya pun tiba sekitar pukul 20:30 WIB, dan kita menunggu waktu boarding sekitar 45 menit. Untuk mengisi waktu saat menunggu kami pun singgah sebentar di Dunkin Donut yang berada di dalam stasiun pasar senen.
Sebenarnya ada cerita menarik sebelum perjalanan ini akhirnya terwujud, hahaha.. 1 hari sebelum waktu keberangkatan saya ke Yogya saya sakit flu, dan tak butuh waktu lama akhirnya untuk saya mengalami radang tenggorokan dan amandel yang mulai membengkak, badan rasanya udah meriang demam panas dingin. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin agar daya tahan saya cepat membaik dan dapat mengalahkan flu ini, namun kenyataan berkata lain, keesokan harinya di hari dimana saya harus berangkat ke Yogya kondisi saya makin drop. Kebayang dipikiran kalau masih seperti ini dalam perjalanan ke Yogya dan setibanya disana pasti akan sangat mengganggu aktivitas saya selama berlibur, apalagi rencana saya disana adalah untuk hunting foto yang akan saya ikutkan dalam sebuah perlombaan fotografi.
Akhirnya dengan segenap tenaga yang tersisa saya pun pagi itu pergi menuju klinik 24 jam dekat rumah, setidaknya saya harus diperiksa dan minum obat antibiotik. Setelah diperiksa dan diberi obat oleh dokter saya pun pulang dan segera sarapan dan minum obat. Sekitar pukul 09:00 WIB saya pun akhirnya istirahat lagi agar obat cepat bekerja. Pukul 11:00 WIB saya terbangun merasakan kalau flunya membaik dan radang tenggorokan pun mereda, tapi cerita lain tak berhenti disitu setelah saya bangun itu saya merasa lambung saya seperti diremas dan perih sekali, akhirnya saya kembali ke klinik tersebut dan meminta obatnya ditukar karena menimbulkan reaksi lambung yang sakit.
Dengan membawa obat yang baru saya pun kembali pulang kerumah dengan tambahan obat maag sebagai obat untuk mengatasi perih di lambung. Setelah makan siang dan minum obatnya, perlahan flu dan sakit lambungnya berkurang, yaah mendingan lah. Yaah itu tadi sekelumit cerita drama sebelum saya tiba di stasiun pasar senen, hahaha.
Ok, kita balik lagi ke cerita.
Setelah ngobrol kesana kemari dan makan malam, akhirnya pukul 21:10 WIB waktu boarding tiba dan kita diminta masuk ke peron untuk segera masuk kedalam kereta. Pukul 21:40 WIB kereta bisnis senja utama Yogyakarta pun melaju meninggalkan stasiun pasar senen menuju stasiun tugu Yogyakarta.
Pagi pun menjelang sekitar pukul 06:00 WIB saya sudah tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta, menghirup nafas panjang yang segar, sejenak saya diam dan mendengarkan suara ibu – ibu penjual pecel, riuhnya supir taksi yang menawarkan jasa antarnya untuk para penumpang kereta yang baru saja tiba, obrolan para tukang becak, dan suara burung yang hinggap di langit – langit stasiun membuat suasana hati semakin menyenangkan. Senyum saya sudah tergambar jelas di wajah saat kereta mulai memasuki stasiun Tugu Yogyakarta, setelah perjalanan panjang dan dinamika hidup saya belakangan ini kembali ke Yogya adalah keputusan yang paling tepat. Yogyakarta adalah kota dimana saya memulai semuanya dan berharap selalu untuk dapat kembali kesana.
Sejenak hening pun akhirnya terbuyarkan oleh seruan travelmate saya yang meminta saya menunjukkan jalan untuk keluar dari sana dan menuju penginapan. Selama di Yogya saya selalu mempunyai tempat favorit untuk bermalam, yaitu di Jl. Sosrowijayan, dekat dengan stasiun tugu dan pusat belanja oleh – oleh Malioboro. Di sepanjang Jl. Sosrowijayan banyak sekali hostel atau losmen atau penginapan murah untuk para backpacker baik dalam negeri maupun mancanegara. Harga per malam yang ditawarkan pun sangat murah mulai dari Rp. 100.000 – Rp. 200.000 / malam. Sangat murah kan apalagi kalau kita menginap dalam waktu yang agak lama, apalagi kalau bersama teman – teman jadi lebih murah karena patungan bayarnya, hehehe..
Penginapan favorit saya di Jl. Sosrowijayan adalah Red Palm Losmen, Jl. Sosrowijayan Wetan GT.I/62 Yogyakarta. Nomor Telepon : (0274) 562114 / Hp : 085643003008 / PIN BBM : 2657A516. Ga perlu khawatir kalau kita akan stay lama di Yogya dan bingung gimana nasib baju – baju kotor, di Red Palm Losmen juga menyediakan fasilitas Laundry loh, dan disini juga menyediakan menu makanan untuk kita pesan jadi ga perlu khawatir malem-malem laper atau pagi pagi mau sarapan, komplit. Red Palm Losmen juga menyediakan penyewaan sepeda motor untuk kita gunakan berkeliling Yogya, karena kalau buat saya yang backpacker gini lebih suka muter – muter Yogya pake motor ketimbang mobil karena bisa lebih leluasa menikmati keindahan Yogyakarta bukan hanya kotanya tapi juga wisata alamnya yang ga habis sehari buat dikunjungi. Harga sewanya pun terjangkau Rp.60.000 / full day, dijamin motornya juga dalam kondisi fit semua. Yuk ahh, kalo ke Yogya rekomendasi saya yaa nginep di Red Palm Losmen yaa untuk para backpacker, yang punya Losmenya juga baik banget dan ramah sekeluarga, namanya Mas Adi, nanti bisa kenalan langsung kalau mau bukti, hehehe..
Sebenarnya saya adalah anak kelahiran asli Yogyakarta, dan punya keluarga besar di Yogya tapi sengaja memilih losmen untuk saya bermalam agar lebih bebas pergi dan pulangnya saja. Apalagi kalau liburan gini dan memang sedang ingin release dan healing jadi saya butuh tempat yang tidak mengusik saya. Seperti anak perempuan jawa kebanyakan saya pasti akan dilarang untuk keluar malam setelah maghrib atau pulang diatas maghrib, hehehe.. ribet kan jadi yaa mending sewa losmen aja. Hahaha..
Baiklah yuk balik ke cerita, hehehe. Perjalanan dari stasiun Tugu Yogyakarta ke Red Palm Losmen hanya 20 menit dengan berjalan kaki, sesampainya disana saya langsung check in dan sewa motor untuk berkeliling di hari pertama di Yogya. Kalau saya tidak salah ingat, sekitar pukul 07:00 WIB saya sudah berada di Red Palm Losmen, sesampainya saya langsung istirahat sebentar tidur untuk ngelurusin badan karena di kereta kan tidurnya sambil duduk yaaa, yaiyalah yaiyakali sambil kayang, hahahaha.
Cukup istirahatnya, saya pun bergegas mandi dan bersiap untuk memulai perjalanan di Yogyakarta. Pukul 10:00 WIB saya pun segera berangkat menuju destinasi pertama saya di Yogya. Ada kejadian lucu sih pas mau pergi menuju destinasi pertama ini, jadi saya khilaf pagi itu setelah menerima kunci motor dari Mas Adi saya langsung menyalakan motor dan menaikinya bersama travelmate saya dari garasi motor Red Palm menuju ke gang, baru jalan 5 Meter saya sudah di teriakin sama bapak – bapak dan ibu – ibu untuk mematikan motornya, karena kondisinya baru bangun tidur dan agak oon saya langsung kaget berhenti dan matiin motor, lalu ada satu bapak – bapak yang mendekati saya dan berkata : “Mba, motornya dituntun saja nggeh sampe gang depan, nanti di depan gang baru boleh dinyalain. Peraturan disini memang seperti itu sudah tertulis di gang depan.” Bapak itu menjelaskan dengan santun sekali, dan saya hanya ngangguk saja sambil minta maaf karena ketidaktahuan saya, akhirnya saya mengucapkan terimakasih dan menuntun motor saya kedepan gang. Sesampainya di depan gang baru saya menyalakan motor saya, dan memulai perjalanan. Setelah motor mulai melaju saya pun tertawa malu bersama travelmate saya, dan menertawakan kebodohan kami pagi itu padahal menginap di Red Palm sudah 2 kali tapi ga baca ada peraturan itu di depan gang. Malu sekali sih saya rasanya, tapi dibawa ketawa aja karena sekarang saya jadi punya cerita lain untuk diceritkan.
Jadi memang sudah jadi adat atau peraturan di Jl. Sosrowijayan di gang manapun seperti itu jika kita membawa motor, motornya harus dituntun dalam keadaan mati sampai depan gang dan baru boleh dinyalakan sesampainya kita di depan gang. Tujuan peraturan itu adalah agar tidak mengganggu warga atau wisatawan lain yang menginap disana sehingga suasana tetap nyaman dan tidak bising oleh suara kendaraan bermotor. Lagipula karena gangnya memang kecil dan kondisi bangunan rumah rapat – rapat sehingga untuk menghormati pejalan kaki dan warga disana kita diminta santun dan tidak arogan membawa kendaraan bermotor disana. Saya suka konsepnya jadi santun dan kita pun jadi sopan bertegur sapa sampai depan gang kepada warga asli disana. Yogya memang berbudaya, pelajaran penting untuk saya dan mengingatkan saya pada budaya Yogya dan Indonesia.
Jadi buat temen – temen yang mau menginap disana dan sewa motor inget – inget yaa biar ga kayak saya untuk nuntun motornya sampai depan gang, hehehe.. Cuma budaya yang membuat kita semakin kaya.
Perjalanan pertama saya hari itu adalah Hutan Pinus Dlingo Mangunan, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Ga lama kok perjalanan dari pusat kota Yogya menuju Hutan Pinus Imogiri, 45 Menit kalau saya tidak salah ingat. Perjalanan disana sangat menyenangkan ga macet, dan setelah memasuki kawasan imogiri yang agak berbukit sejuk mulai terasa, rimbunnya hijau pepohonan pun memanjakan mata. Pertama kali tiba disana mata saya langsung segar dan semangat pun langsung terisi penuh dengan pemandangan yang sangat indah dan memanjakan mata. Tingginya pohon pohon pinus dan kerapatan daunya membuat suasana jadi semakin sejuk dan teduh. Tidak menunggu lama lagi saya langsung bergegas masuk ke Hutan Pinus untuk mencari spot – spot foto yang bagus. Maklum keindahan kayak gini wajib banget disimpan di memori karena Jakarta yang ada hanya gedung tinggi.
Hutan pinus ini sangat digemari oleh wisatawan belakangan ini karena lokasinya yang ga jauh dari pusat kota, teduhnya suasana disana, dan mengingatkan kita akan scene di salah satu film twilight, hehehe.

hutan pinus dlingo imogiri
Harus cobain deh rasain sendiri disana sangat menenangkan dan segar apalagi banyak sekali spot yang bisa diabadikan atau kalau kata anak sekarang instagramable. Cocok banget buat kita yang bosan dan lelah dengan kota. Sejenak duduk di Hutan Pinus ini sambil mensyukuri semua yang ada di hidup ini juga sebuah kebahagiaan yang luar biasa indah dari Tuhan. Tempat yang tepat juga untuk menyegarkan kembali pikiran dan hati.

hutan pinus dlingo imogiri

buah pinus dlingo imogiri

Hutan Pinus Dlingo Imogoiri
Setelah puas bermanja – manja di Hutan Pinus Imogiri saya pun beranjak meninggal hutan pinus dan mengeksplore daerah sekitaran imogiri dengan mengendarai motor. Saya lupa entah kemana waktu itu yang jelas sempat makan siang menjelang sore di perjalanan turun dari imogiri menuju kota Yogyakarta. Mengendarai motor dengan santai, menikmati suasana Yogya, dan menikmati semilir angin jalan dengan random membuat saya sangat bahagia.
Setelah puas dan sore mulai beranjak senja kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk beristirahat dan menyiapkan tenaga untuk perjalanan keesokan harinya. Maghrib pun tiba dan saya pun tiba dengan selamat di penginapan, kami memutuskan untuk membeli makan malam di jalan depan sosrowijayan yang banyak sekali menjajakan makanan saat malam tiba.
Hari itu pun ditutup dengan menyenangkan dan menutup mata dengan kesejukan Hutan Pinus Imogiri Dlingo Mangunan Bantul Yogyakarta.
Suara adzan subuh pagi itu terasa lembut kalbu, itu saatnya saya terbangun dan segera bergegas untuk sholat subuh dan bersiap untuk memulai melukis hari itu. Pukul 06:30 WIB saya sudah siap dan berangkat menuju Pantai Pok Tunggal, Gunung Kidul, Yogyakarta. Sebelum menuju kesana saya pun mampir untuk membeli beberapa makanan yang dijajakan ibu – ibu di sekitar Jl. Sosrowijayan sambil sejenak memperhatikan senyum ramah ibu penjual ini dan sekedar mendengar obrolan pagi ibu – ibu di sekitarnya. Menyenangkan.
Setelah perbekalan siap, saya pun melaju mengendarai motor menuju Pantai Pok Tunggal. Jarak yang saya tempuh menuju Pantai Pok Tunggal ini dari pusat kota Yogyakarta sangat jauh, saya setidaknya butuh waktu kurang lebih 2 jam, karena jarak yang jauh ini pun yang akhirnya membuat saya berangkat pagi – pagi sekali menuju kesana. Saya sengaja mengendarai motor saya dengan santai sambil menikmati suasana Yogya, tak terasa saya pun tiba di wilayah Gunung Kidul, masih setengah perjalanan lagi dan saya berhenti sejenak di sebuah pom bensin untuk mengisi full bensin agar tidak kehabisan bensin diatas sana.
Perjalanan menuju Pantai Pok Tunggal sangat menyenangkan, petunjuk jalan pun lengkap sehingga tidak sulit bagi kita menuju kesana. Setelah kita mulai mendekati lokasi Pantai memang jalanan mulai agak terjal dan naik turun sehingga kita pun harus berhati – hati, sekitar 10 menit menuju Pantai pun jalan mulai terjal dan tidak full aspal atau cor coran wisatawan perlu ekstra hati – hati apalagi kalau cuaca sedang hujan.
Di muka jalan masuk Pantai Pok Tunggal kita sudah disajikan pemandangan yang sangat indah, birunya laut, deburan ombak, semilir angin pantai, terik sinar matahari membuat sempurna hari itu. Saya tiba di Pantai Pok Tunggal pukul 10:00 WIB, itu berarti saya butuh waktu 2,5 Jam dari pusat kota Yogyakarta. Pantai Pok Tunggal memiliki garis pantai yang cukup, dan deretan warung pun menghiasi pantai, untuk yang ingin menikmati dengan duduk – duduk di pasir jangan khawatir karena ada penyewaan tikar dan disediakan payung payungnya sehingga melindungi kita dari teriknya matahari langsung.

pantai pok tunggal gn.kidul
Untuk menikmati keindahan Pantai Pok Tunggal dari sudut yang tinggi pun bisa karena disana tersedia bukit pandang sehingga kita bisa menikmati pemandangan dari tempat yang tinggi. Saya pun naik ke bukit ini dan ternyata diatas sana ada beberapa gubuk yang disewakan untuk wisatawan yang ingin menikmati pantai dari ketinggian sambil menikmati es kepala muda dan panganan yang disediakan di beberapa warung diatas sana.

pantai pok tunggal dari bukit pantau
Saya pun segera ambil posisi untuk beberapa spot pengambilan beberapa foto untuk diabadikan dan diikutkan dalam sebuah perlombaan fotografi. Menikmati indahnya pantai pok tunggal dari atas bukit ini ternyata menyenangkan, mengingatkan saya akan kawasan Pura Uluwatu, Bali.
Puas menikmati suasana di Pantai Pok Tunggal, saya mencari pantai sekitaran sana. Secara random akhirnya saya bertemu jalan menuju Pantai Seruni. Jalan menuju Pantai Seruni ini tidak kalah serunya karena kita melewati jalan licin berbatu naik dan turun. Saya ingat waktu itu siang sudah menjelang sore, jalanan sepi sekali hanya motor saya dan sedikit penduduk asli yang berlalu lalang. Saya hanya butuh waktu 10 menit kurang lebih dari Pantai Pok Tunggal menuju Pantai Seruni, petunjuk jalan pun masih sangat minim dan hanya terbuat dari papan yang bertuliskan Pantai Seruni.
Setelah melewati jalan berbatu dan menanjak terjal saya pun tiba di Pantai Seruni. Pantainya tidak memiliki garis pantai yang panjang, pasirnya cokelat cenderung hitam. Pantai Seruni sepertinya baru dibuka dan belum ada pengelolaan yang baik, parkiran kendaraan pun minim namun Pantai Seruni cukup memuaskan rasa ingin tahu saya. Foto – fotonya saya bagikan dibawah sini yaa..

topografi pantai seruni

Pantai Seruni gn.Kidul
Saya pun langsung melanjutkan perjalanan ketika gerimis mulai turun dan segera hujan mengahmpiri. Laju motorpun dipercepat agar tak terjebak ditengah hutan dan hujan, saya pun langsung mengarahkan perjalanan menuju kota Yogyakarta kembali ke penginapan di Sosrowijayan.
Malam pun tiba setelah makan malam kami pun memutuskan untuk menonton pagelaran wayang kulit dan diselenggarakan di Jl. Sosrowijayan tepat di depan gang sebelum masuk ke penginapan. Jujur saya tidak mengerti dengan baik apa yang dikatakan sang dalang saat memainkan satu persatu wayang kulit di tanganya, tapi entah kenapa saya terduduk manis menyaksikan pertunjukan tersebut. Setelah merasa ngantuk kami pun kembali ke penginapan.

Pertunjukkan Wayang Kulit
Sebenarnya sore itu rencana kami ingin melihat sunset di candi Ratu Boko namun waktu tak memungkinkan kita melihat senja di ratu boko.
Pagi pun menjelang, pukul 06:00 WIB kami sudah memulai perjalanan menuju Candi Ratu Boko. Menyejukkan saat mengendarai motor di awal pagi seperti ini, karena udara yang sejuk dan tidak ada kemacetan dijalan menuju kesana. Hembusan angin, sapaan sesama pengguna motor di lampu merah, dan pemandangan ibu-ibu penjual makanan di pasar, sungguh pengalaman yang sangat berharga.

Suasana Jalan Jogja Pagi Hari
Pukul 06:45 WIB kami tiba di Candi Ratu Boko. Sinar matahari hangat dan deretan burung merpati di pelataran Candi Ratu Boko membuat suasana pagi itu makin menenangkan. Menikmati pagi hari di Candi Ratu Boko tidak kalah menyenangkanya dengan senja di Ratu Boko. Kabut tipis dikejauhan dengan background Gunung Merapi pun menjadi pemandangan pembuka di tangga menuju Candi Ratu Boko. Gagahnya Sang Merapi dan hijaunya tanah sekitarnya membuatnya menjadi penjaga yang sangat kuat.

Halaman Candi Ratu Boko

Merapi ViewCandi Ratu Boko

Merapi View Candi Ratu Boko
Mendekati gerbang Candi Ratu Boko kita akan disambut dua pohon beringin tepat di samping kiri dan kanan sebagai penolak hal hal buruk dan gerbang utama. Langit biru, hembusan angin, dan sinar matahari yang menghangatkan adalah gambaran saya di Candi Ratu Boko pagi itu.

Gerbang Beringin Ratu Boko
Ini pengalaman ke-3 saya menjejakkan kaki di Candi Ratu Boko, tempat ini selalu berhasil membuat saya terikat secara alami dan emosional. Entah kenapa mungkin energi dari batu batu alam asli penyusun candi Ratu Boko ini yang membuat saya merasakan ketertarikan itu.

Candi Ratu Boko

Cagar Budaya Candi Ratu Boko

Gerbang Candi Ratu Boko

Panorama View Ratu Boko
Lokasi favorit saya ketika disini adalah hamparan rumput dengan naungan rimbun pohon besar di sebelah kanan pintu Candi Ratu Boko. Puas berkeliling komplek Candi saya pun duduk di bawah pohon tersebut, jangan khawatir disana tersedia kursi taman yang panjang di beberapa titik jadi bisa menjadi tempat istirahat sambil menikmati sejuk dan tenangnya Candi Ratu Boko.

Taman Candi Ratu Boko
Duduk disalah satu kursi sambil memejamkan mata, sengaja merasakan energi yang ada di sekeliling sambil sejenak hening merelaksasi tubuh dan pikiran. Pengalaman itu lah yang mahal dari setiap perjalanan, tubuh kembali diisi dengan energi positif dari alam. Mengingat kembali apa saja keputusan yang telah saya ambil sampai saat ini, mengumpulkan keberanian untuk dapat melangkah lagi dengan pasti. Ketenangan itulah yang sedang saya butuhkan, merefleksi diri atas apa yang sudah saya ambil.
Something happen for a reason, saya yakini itu. Meninggalkan pekerjaan yang selama ini saya kerjakan, gaji bulanan, dan semua carut marut manajemen kantor. Bersyukur, saya sangat bersyukur bisa bebas memilih dan memutuskan apa saja yang akan saya ambil.
Keputusan ini mutlak dari saya, dan saya akan buktikan kalau saya bisa berdaya dengan diri sendiri. Ekplorasi minat diri dan keahlian menjadi hal yang utama yang saat ini saya jalankan. Saya yakin hobi saya dapat membawa saya ke level kehidupan yang lebih baik, bukan untuk menunjukkan ke siapapun tapi untuk pembuktian diri sendiri.
Senyum seorang ibu yang sudah memasuki usia senja menyapa kami saat ditangga turun menuju pintu keluar Candi Ratu Boko, siapapun beliau saya ingin berterimakasih karena senyuman tulusnya menyentuh hati saya yang terdalam. Beliau mengingatkan saya kepada nenek saya, mbok ti biasa saya memanggilnya. Mbok Ti meninggal 13 Februari 2016 lalu, senyum beliau pun melekat kuat di ingatan saya sampai detik ini, tapi apa mau dikata semuanya hanya melekat di ingatan dan tak dapat saya lihat lagi senyumnya secara langsung karena saat ini beliau sudah tersenyum disisi Allah SWT.
Terimakasih sekali lagi untuk mbah putri yang menyapa kami dan tersenyum walaupun mbah tidak mengenal kami. Terimakasih atas pelajaran santun tentang hidup ini, keramahan kepada semua orang walaupun kepada orang yang lebih muda. Terkadang saya lupa untuk tersenyum atau sekedar menyapa orang lain karena terlalu sibuk memperhatikan diri sendiri. Budaya santun dan ramah itulah Indonesia. Dimanapun simbah berada semoga selalu sehat ya mbah dan terus menebarkan senyum kebaikan.
Momen sentimental itu pun akhirnya membuat saya untuk mampir di kediaman Almh. Mbok Ti di Godean Yogyakarta. Beliau memang sudah tidak ada tapi saya ingin mengunjunginya sesering yang saya mampu. Saya pun akhirnya tiba dirumah keluarga di Desa Kedung Banteng, Godean, Sleman, Yogyakarta. tempat dimana saya dilahirkan dan ditanamkanya ari-ari saya disana.
Hanya tinggal bude saja saat ini dan keluarga bude yang tinggal disana. Kakak – kakak ibu yang masih tinggal disana. Mengunjungi mereka itu sama dengan napak tilas sejarah saya di hidup ini. Saya lekat melihat sebuah puing – puing sisa bangunan yang masih berserakan disebuah tanah kosong. Disanalah sebenarnya saya memulai sejarah ini. Dulu disana adalah rumah Mbok Ti, rumah dimana setiap tahunya senyum dan tawa kami ada, namun setelah dimakan usia seiring dengan usia Mbok Ti akhirnya rumah itu pun diputuskan untuk dirubuhkan dan Mbok Ti tinggal dengan anak tertua Mbok ti.
Pintu coklat itu masih lekat diingatan saya, dimana selalu berharap ada Mbok Ti yang menyambut setiap cucunya yang datang untuk sekedar menerima ciuman dan pelukan hangat. Disanalah saya mengenal pelukan terhangat dan menenangkan. Terimakasih atas pelajaran hidup yang kau tanamkan lewat pelukan hangat dan senyum manismu.
Malampun tiba dan saatnya saya kembali ke penginapan dan packing untuk kembali ke Jakarta. Kembali kepada realita hidup yang saya jalani.
Malam itu pikiran saya melambung tinggi, membayangkan dan kilas balik bagaimana hidup saya bermula. Keindahan alam Yogya yang menawan adalah daya tarik kota ini, santun dan ramah adalah hal yang tak bisa terlepas dari kota ini. Saya sadar telah banyak langkah yang saya jalani sampai hari itu, banyak keputusan yang telah saya ambil dan tak akan pernah saya sesali. Terimakasih Yogyakarta, telah membawa saya kembali “Menjejak Kisah Dalam Sebuah Pintu Sejarah”.
Catatan :
Penginapan favorit saya di Jl. Sosrowijayan adalah Red Palm Losmen, Jl. Sosrowijayan Wetan GT.I/62 Yogyakarta. Nomor Telepon : (0274) 562114 / Hp : 085643003008 / PIN BBM : 2657A516. [bisa langsung search di google untuk melihat foto dari penginapan Red Palm]
Follow Me :
Instagram : @atmarahmani
Twitter : @aduth
Facebook : Tri Atma Rahmani

There is definately a great deal to know about this issue.
I like all of the points you made. http://bing.net
admin
thank you Amy.. 😀