Saya masih ingat bagaimana rasanya berada diantara 3.500 orang di Kota Kasablanka Hall Jakarta kemarin malam. Saat ini saya menulis ini pukul 19:30 WIB, kemarin malam jam segini saya sudah duduk manis di dalam Kota Kasablanka Hall bersama 3.500 orang lainya untuk hadir dan menjadi bagian dari sebuah sejarah. Sejarah apa? Sejarah dari sebuah karya dari seorang Pandji Pragiwaksono.
Saya selalu excited kapanpun mas Pandji akan mengeluarkan sebuah karya. Setiap karya dari Pandji akan selalu saya nanti dan berusaha untuk mendapatkan bentuk fisik dari tiap karyanya, untuk itu saya menabung. Begitu pula dengan pertunjukkan standup special shownya kemarin malam yang berjudul Juru Bicara. Sudah pasti saya tidak akan melewatkannya begitu saja, hehe.
17 Agustus 2016 presale pertama tiket Juru Bicara sudah mulai dijual online melalui wsydnshop.com, tempat dimana Pandji menjual official merchandisenya. Saya adalah salah satu dari ribuan orang yang beruntung mendapat tiket presale pertama Juru Bicara Jakarta beserta dengan kartu prioritasnya karena saya termasuk 1000 orang pembeli pertama.
Baru tahu kalau dapet tiketnya aja udah seneng banget, padahal pertunjukannya baru akan digelar 10 Desember 2016, tapi penantian panjang itu pun akhirnya sampai, kemarin malam 10 Desember 2016 saya berhasil menjadi bagian dari sebuah sejarah bersama Pandji Pragiwaksono.
Juru Bicara Jakarta kemarin malam dibuka oleh dua opener yaitu Coki Pardede dan Indra Jegel. Baru dibuka sama Coki Pardede aja saya sudah tertawa lepas, bit soal pemakaman di Jakarta yang sudah penuh dan harus ditumpuk kebawah dan keatas itu bikin ngakak parah, hahaha. Lalu dilanjutkan lagi oleh opener Indra Jegel, makin gila lagi saya ketawanya karena bit pemadam kebakaran di Medan yang adu pantun, hahaha.
Pemanasan yang sangat baik saya rasa oleh dua opener tersebut sebelum akhirnya pertunjukan utama Juru Bicara oleh Pandji Pragiwaksono dimulai.
Akhirnya pertunjukkan utama Juru Bicara dimulai, Pandji muncul dengan batik tenun Negarawan warna merah dengan penuh semangat menyapa semua penontonya. Saya pun langsung tepuk tangan heboh, ga sabar karena pengen nonton pertunjukkanya, hehe.
Jujur 2,5 jam pertunjukan oleh Pandji sama sekali ga berasa, dari awal sampai akhir saya sama sekali ga lihat jam atau tengok kanan kiri karena fokus saya cuma mas Pandji di tengah panggung yang besar di Kota Kasablanka Hall, sampe pengen pipis aja ditahan karena ga mau kelewatan sedetikpun apa yang akan diucapkan Pandji, hahaha.
Bit awal tentang pengalaman memulai Juru Bicara World Tour di Shanghai dengan segala ceritanya, yang saya masih inget banget kalau kebiasaan orang di Shanghai kalau masuk toilet umum yang harus flush atau nyiram kotorannya adalah orang setelahnya yang akan menggunakan toilet tersebut, sumpah bayanginya aja jijik banget yaaa, hahaha. Abis buang ya tinggal aja gitu, hahaha. Fakta baru yang baru saya dapat kemarin malam, Hahaha.
Belum lagi soal ga boleh nahan kentut, dan mas Pandji punya pengalaman saat disana didalam lift dikentutin sama nenek, dengan ruang lift yang sempit dikentutin nenek itu sulit loh, Hahahaha.
Banyak banget bit yang dibawain sama mas Pandji selama 2,5 jam pertunjukkan. Ada beberapa bit yang saya ingat malam kemarin, mulai dari legalisasi ganja untuk kesehatan, perlunya regulasi pemerintah untuk tempat prostitusi, owa jawa yang populasinya hampir punah, Gajah yang masuk pemukiman warga padahal yang benar adalah warga yang masuk ke wilayah Gajah, rating tv, sensor tayangan tv yang aneh, kantor tv berita sedih kalau sehari ga ada berita buruk, HAM aksi kamisan, hilangnya mahasiswa saat reformasi, pedagang di sharinah saat bom terjadi tetep jualan karena mikir yang rame – rame lagi shooting avengers, tentang sebuah karya beda sedikit lebih baik daripada sedikit lebih baik, menghidupkan sebuah mimpi.
Masih ada lagi beberapa bit malam kemarin tapi yang saya benar-benar ingat itu. pertunjukkan Juru Bicara kemarin malam benar-benar membuat saya tertawa, sedih, mata berkaca-kaca, mikir, tertawa lagi, mikir lagi, sedih, semangat. Perasaan saya benar-benar campur aduk.
Topik yang dibawakan Pandji memang bukan hal yang mudah untuk diterima dengan tertawa tapi Pandji berhasil mendeliver pesanya dengan sangat baik dan lucu.
Bit tentang kelakuan manusia yang sering menyiksa binatang hanya untuk mendapatkan uang itu sungguh melukai hati, sedih dengernya dan lebih menyedihkan saya sendiri ga pernah aware dengan hal itu dan tidak pernah mau cari tahu, padahal kelangsungan hidup kita juga bergantung pada mereka. Pandji membawakan dengan sangat baik dan membuka kembali mata kita dengan fakta.
Pertunjukkan ditutup tepat dengan durasi 2,5 jam. Mas Pandji tampak sangat emosional sekali saat menutup Juru Bicara Jakarta malam kemarin. Akhirnya beban dipundaknya terangkat, semua selesai dengan sangat sukses kemarin malam. Perjuangannya untuk menghidupkan sebuah mimpi ga mudah tapi akhirnya tercapai dan ditutup dengan manis.
Yang nonton langsung Juru Bicara Jakarta kemarin pasti tahu gimana rasanya saat Pandji menutup acaranya, merinding saya dan ikut bangga. Saya ga nyesel udah antri panjang sebelum masuk hall, begadang nunggu presale pertama, karena kemarin malam ditutup dengan manis sekali, pertunjukkan akhir tahun yang menyenangkan.
Pemandangan antrian panjang dari penonton yang akan foto bareng mas Pandji aja sampai mengular padahal waktu udah menunjukkan lewat jam 12 malam loh. Kita setia mas nungguin buat foto dan rela antri berjam-jam. Hehehe.
Salut juga buat mas Pandji yang mau ngeladenin foto bareng sampe bener-bener penonton terakhir padahal saya tahu banget capeknya kayak apa itu. senyum ramahnya, humble bangeet. Sehat – sehat ya mas. J
Koleksi foto bersama mas Pandji pun nambah, kali ini untuk Juru Bicara Jakarta. Ditunggu foto barengnya lagi di karya selanjutnya. Hehehe.
Tahun depan Konser Rap, pleaseeee…. 😀
Lewat tulisan ini saya mau menyampaikan terimakasih banyak untuk mas Pandji Pragiwaksono yang mau menjadi Juru Bicara bagi kami yang takut untuk berbicara. Terimakasih untuk mau bersusah payah menghidupkan sebuah mimpi, bukan untuk diri sendiri tapi untuk Dipo dan Shira. Dipo pasti bangga punya Ayah seperti mas Pandji, sekarang Dipo tahu kalau mimpi bisa menjadi sebuah kenyataan, Dipo punya pahlawan seutuhnya yaitu Ayahnya, Pandji Pragiwaksono. 🙂
Terimakasih juga untuk selalu menyalakan semangatnya, karena tanpa disadari mas Pandji juga menjadi cahaya untuk kami yang sedang berkarya. Saya sedang dalam proses membuat sebuah karya di bidang fotografi dan penulisan. Dianggap jelek dan dihina orang lain juga sering, diremehkan oleh orang yang paling dekat juga sering, dibilang bodoh dikelas oleh guru bahasa inggris saat kelas 5 SD juga pernah sampai di hukum berdiri depan kelas karena ga bisa jawab benar. Tapi saya punya mimpi, dan saat ini saya yakin bisa menghidupkan mimpi itu walaupun saya tahu bukan hal mudah, kerja keras, disiplin, adalah hal wajib untuk kita yang sedang berkarya.
Terimakasih mas Pandji mau jadi cahaya itu dan menambah keyakinan saya kalau ga ada yang salah dengan sebuah mimpi, selama kita mau menghidupkan mimpi itu kita pasti bisa.
Sampai bertemu di karya selanjutnya mas.. 🙂
“sedikit beda lebih baik daripada sedikit lebih baik”
Pandji Pragiwaksono
